Perempuan juga bisa alami ADHD, tapi sering diabaikan
Perempuan dan ADHD: Tanda-Tanda yang Sering Terlewat
Ketika membicarakan gangguan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), kita sering kali membayangkan anak laki-laki yang hiperaktif dan sulit duduk di kelas. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa perempuan juga bisa mengalami ADHD, meskipun gejalanya mungkin berbeda dari yang biasa kita bayangkan.
Perempuan dengan ADHD sering kali tidak terdeteksi karena gejalanya cenderung lebih "terinternalisasi". Mereka mungkin tidak menunjukkan perilaku yang mengganggu secara langsung seperti anak laki-laki, tetapi justru lebih sering melamun, tidak fokus, atau merasa stres tanpa menyadari bahwa ini bisa menjadi tanda-tanda ADHD.
Anak Perempuan dengan ADHD
Anak perempuan usia sekolah dan remaja dengan ADHD sering kali tidak terdiagnosis karena gejalanya tidak terlihat jelas. Mereka mungkin lebih suka berpikir sendiri, tidak fokus, atau kesulitan dalam memahami isyarat sosial. Hal ini dapat membuat mereka disalah diagnosis sebagai penderita kecemasan atau depresi, alih-alih ADHD.
Selama masa pubertas, perempuan dengan ADHD menghadapi tantangan tambahan. Perubahan hormonal selama masa ini bisa memengaruhi efektivitas obat ADHD dan meningkatkan risiko kesulitan belajar, masalah penyalahgunaan zat, serta gangguan suasana hati.

Perempuan Dewasa dengan ADHD
Banyak perempuan dewasa baru menyadari adanya ADHD setelah anak mereka didiagnosis. Ini terjadi karena banyak perempuan tidak teridentifikasi saat kecil dan hanya menyadari gejala mereka ketika menghadapi situasi serupa dengan yang dialami anak mereka.
Selama bertahun-tahun, perempuan dengan ADHD sering kali mengembangkan strategi coping untuk menghadapi tantangan sehari-hari. Namun, ketika menghadapi fase transisi kehidupan seperti menjadi ibu atau menopause, strategi tersebut mungkin menjadi kurang efektif.
Perempuan usia 30-an dan 40-an adalah kelompok yang mengalami pertumbuhan tercepat dalam diagnosis ADHD. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang mulai menyadari bahwa ADHD bukan hanya kondisi anak-anak, tetapi juga bisa terjadi pada perempuan dewasa.
Gejala ADHD pada Perempuan
Perempuan dengan ADHD sering kali menggambarkan pengalaman yang sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari, meskipun tidak termasuk dalam kriteria diagnosis resmi. Contohnya, banyak dari mereka berusaha menutupi emosi atau perilaku agar tidak terlihat berbeda dari orang lain. Mereka mungkin bekerja terlalu keras untuk tampil terorganisasi dan kompeten, bahkan sampai menghabiskan waktu berlebihan dalam mengerjakan tugas.
Polos-pola ini bisa menyebabkan stres kronis dan kelelahan, yang sering kali muncul sebagai gangguan kecemasan atau depresi. Kondisi ini membuat identifikasi masalah mental yang akurat menjadi lebih sulit.
Perempuan dengan ADHD juga sering kali kesulitan memulai tugas, menunda-nunda pekerjaan, dan sulit menyelesaikan tugas tepat waktu. Tantangan ini bisa memengaruhi kehidupan pribadi maupun profesional, menyebabkan keraguan diri dan kelelahan mental berkepanjangan (burnout).
Perempuan ADHD di Usia Lanjut
Saat memasuki usia lanjut (60 tahun ke atas), banyak perempuan dengan ADHD mengalami perburukan gejala. Hal ini diduga disebabkan oleh penuaan otak dan perubahan akibat menopause.
Lansia dengan ADHD mungkin mengalami dampak yang lebih besar karena struktur dan fungsi lobus frontal mereka sudah berbeda sejak awal. Perubahan hormon, terutama penurunan estrogen, juga memengaruhi efek dopamin, yang penting untuk suasana hati dan kognisi.
Perempuan dengan ADHD sering mengalami fluktuasi hormon yang lebih ekstrem dibandingkan perempuan lainnya. Masa perimenopause menjadi fase yang sangat menantang bagi mereka, karena perubahan hormon bisa memperparah gejala ADHD.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Merasa Ada Tanda ADHD?
Jika kamu merasa memiliki tanda-tanda ADHD, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog klinis. Diagnosis yang tepat memerlukan pemastian bahwa gejala telah ada sejak lama dan tidak dipengaruhi oleh kondisi medis atau kejiwaan lain.
Anda juga bisa mencari informasi lebih lanjut melalui komunitas ADHD lokal, seperti Komunitas ADHD Indonesia, untuk mendapatkan dukungan dan bantuan dalam pengujian dan diagnosis.